Memutuskan Keluar dari Group Whatsapp


Freepik
Bagi saya left dari grup WA adalah sebuah keputusan tersulit, tapi gak ada yang sesulit dari memutuskan untuk tidur dulu atau makan dulu sih (((bagi saya loh ya))). Akhirnya saya left dari beberapa grup pertemanan, sekolah, dan grup-grup yang ….. bagi saya saya harus left!
Kenapa?
Tidak ada akibatnya saya left kalau tidak ada sebabnya kan ya. Iya loh. Coba saya ungkapkan alasannya ya. Mungkin beberapa teman-teman saya juga kaget, kenapa saya left dari grup. Tenang, saya bukan karena marah dan ngambek. Ada yang lebih bahaya dari itu bila saya tidak kunjung left grup. Saya bertransaksi dengan saya sendiri. Apa plus dan minusnya dengan grup yang saya ikuti. Ternyata, banyak minusnya.
Saya ingin menenangkan diri. Terlalu banyak informasi yang saya dapati, semakin penuh pula pikiran saya. Saya ini orangnya sangat perasa dan kepikiran. Kalau sudah dua hal ini menghantam saya, hidup saya jadi tidak mudah, terlebih lagi saya penyintas depresi.
Saya harus meminimalisir informasi yang saya dapatkan dari grup. Bukannya abai, justru saya kepo yang akhirnya informasi tersebut memenuhi kandang pikiran saya. Satu-satunya jalan, ya left grup WA.
Dengan left grup WA, pegang HP pun jadi berkurang. Biasanya saya tahan berlama-lama pegang HP karena ada notif WA atau main media sosial. Saya bahas di sini, mencoba untuk mengurangi main media sosial. (klik: Alasan Mengurangi Main Instagram dan Facebook )
Tapi, nggak semua grup saya left dan tidak ada 1 grup pun saya join di dalamnya. Saya hanya join grup kantor, keluarga, dan kegiatan saya. Karena kalau saya left grup tersebut, ya saya bisa ketinggalan informasi penting dan masih berhubungan dengan aktivitas yang saya jalani saat ini.
Untuk yang tidak ada hubungannya dengan aktivitas yang saya jalani, ya saya left grupnya. Seperti, grup SD sampai kuliah. Saya sedih sih sebenarnya untuk left grup reunian ini. Lagi-lagi saya merenung lama untuk left dari grup tersebut, saya bakal tidak bisa mendengar informasi dari teman-teman lagi dan joke-joke mereka. Tapi biasanya kalau grup sekolah itu, 90 persennya ngobrolin hal-hal remeh dan yang diajak ngobrol mereka-mereka lagi aja gitu. Sebagian lainnya jadi silent reader. Saya penginnya, yang silent reader ini juga ikut nimbrung sekadar chat sapa halo, atau lain-lain lah. Lagi-lagi, yang chat di grup orangnya dia lagi dia lagi, jadi nggak seru kan ya? Ya sudahlah left aja :P
Saya mikirnya gini, kalau memang mau berkomunikasi dengan saya. Mereka toh bisa saja japri saya. Lagian, kalau japri gitu komunikasi kita kan lebih romantis kan. Hai apa kabar kamu? Iya Kamu.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar