Fakta-fakta Menarik Seputar Asian Games 2018 yang Terjadi pada Atlet Indonesia




Kemeriahan tentang Asian Games 2018 ini, memang tidak ada habisnya. Semua orang membicarakannya, dan mengandalkan para atlet jagoan Indonesia untuk memenangkan medali emas tiap pertandingannya.

Alhamdulillah, Indonesia dapat meraih prestasi gemilang dalam Asian Games 2018. Berikut, ada 6 fakta menarik seputar Asian Games yang terjadi di negeri kita, Indonesia.

Hari pertama memperoleh medali emas


source: IG @kemenpora

Pada hari pertama, tepatnya tanggal 19 Agustus 2018. Medali emas diraih oleh Defia Rosmaniar dari cabang olaharaga Taekwondo. Defia Rosmaniar berhasil mengalahkan lawannya yang berasal dari Iran, Marjan Salahshouri pada nomor final poomsae individu putri.  

Cabang olahraga panahan dalam sejarah, kali pertama masuk babak final dalam Asian Games


source: IG @kemenpora

Panahan tunggal putri Indonesia tercatat dalam sejarah, kali pertama pada Asian Games 2018, masuk ke babak final yang diwakili oleh Diananda Choirunisa. Walau hanya mendapatkan medali perak, namun pemanah kita, Diananda yang masih berusia 21 tahun berhasil tampil dalam nomor recurve women individual Asian Games.  

Perolehan medali emas terbanyak untuk Indonesia diraih cabang olahraga pencak silat


source: IG @kemenpora

Cabang olahraga Pencak Silat berhasil mengumpulkan medali emas terbanyak untuk Indonesia. Sudah ada 14 medali emas yang diraih oleh para atlet Pencak Silat.
Terdapat 2 atlet pasangan kekasih dan suami-istri yang mendapatkan medali di Asian Games



source: IG @kemenpora

Terdapat pasangan suami istri dan kekasih atlet asal Indonesia yang sama-sama berjuang dalam Asian  Games 2018 ini. Ada sepasang kekasih atlet wushu yang sama-sama mendapatkan medali: Lindswell Kwok mendapatkan medali emas dan Achmad Hulaefi mendapatkan medali perunggu.

Ada Iqbal Chandra dan Sarah Tria Monita yang baru menikah, beberapa bulan sebelum Asian Games dilaksanakan. Dan demi berjuang di Asian Games, akhirnya pasangan ini pun sama-sama mendapatkan medali emas. Selain pasangan yang mendapatkan medali, ada beberapa pasangan lagi yang sama-sama berlomba dalam Asian Games 2018.


source: IG @kemenpora

Rekor! Atlet termuda dalam Asian Games pada pertandingan skateboard


source: IG @kemenpora

Indonesia patut berbangga memiliki atlet termuda yang meraih medali perunggu dalam Asian Games 2018 bernama Bunga Nyimas. Dan Bunga tercatat sebagai rekor atlet termuda yang mendapatkan medali dalam cabang olahraga skateboard.  Usianya masih 12 tahun, loh.

Selebrasi Jonathan dengan membuka bajunya


source: IG @kemenpora

Pada cabang olahraga Badminton, memang tidak diragukan lagi kehebatan atlet Indonesia. Kali ini, badminton tunggal putra diwakili oleh Jonathan Chistie berhasil mengalahkan atlet asal Taiwan, Chou Tien dengan skor 11-8 pada babak Final. Saat kemenangannya, Jonathan lagi-lagi membuka bajun sehingga menjadi obrolan hangat kaum hawa dan mendapatkan trending topik di Twitter.  

Pengalaman Nonton Pertandingan Asian Games di GBK








Sejak Asian Games dimulai, yaitu tepatnya pada tanggal 18 Agustus 2018 untuk Opening Ceremony. Saya berharap bisa datang dan menyaksikan pertandingan olahraga Asian Games secara langsung. Namun, karena faktor tidak ada teman yang bisa diajak, jadilah saya bingung. Sampai tiba hari ini, secara random dan dadakan. Saya membawa teman bermain, Ulfa untuk ikut datang dan menyaksikan pertandingan final badminton yang dilaksanakan di GBK.

Sebelumnya saya sudah ajakin Ulfa buat nonton Asian Games dengan pertandingan apa saja yang penting bisa nonton langsung ke sana. Singkat cerita, finally, saya dan Ulfa kesampaian juga datang ke Gelora Bung Karno (GBK).

Final badminton hari ini (tanggal 28 Agustus 2018) memang sangat ditunggu oleh para pecinta olahraga badminton. Memang, dari dulu Cabang Olahraga ini pun patut diacungkan jempol, yap, sejak zaman Susi Susanti hingga hari ini, jagoan kita, badminton tunggal putra, Jonathan Christie maju ke babak final. Tiket badminton pun sudah habis terjual lewat online. Dan, apesnya lagi, tiket dijual hanya lewat online. Jadi, kami tidak dapat menonton langsung di tribun.

Tiket masuk Asian Games 2018

Pertandingan dimulai sejak pukul 12.00 WIB, dan kami baru sampai di GBK sekitar pukul 12.30 WIB harga tiket masuk dikenakan biaya, 10.000 lalu tiketnya dipasangkan di tangan. Sesampainya di sana, kami buru-buru nonton lewat layar besar yang sudah terlewat set pertama, dan sedang bertanding pada set kedua. Ramai penonton yang hadir, dan pada waktu tersebut matahari sedang tidak bersahabat, panas banget!



Untungnya udah prepare bawa payung, tapi tetap saja kepanasan. Walau panas, semangat dan jiwa-jiwa kami untuk ikut serta dalam memeriahkan pertandingan tidak surut. Malah semakin banyak yang datang setelah kami sampai. Saat perpindahan set ketiga, saya dan ulfa sempat berpindah tempat untuk menonton pertandingan badminton, disuruh pindah lebih tepatnya.

Duduk di bawah dan lagi panas-panasanya

Yang di tempat sebelumnya kami berdiri panas-panasan, dan sekarang duduk panas-panasan. Pertandingan tunggal antara Jo dan lawannya dari Taipei, Tienchen Chou sangatlah seru! Cakeplah Jho mainnya, tampangnya juga cakep. (hahaha) banyak dari kami yang seseruan, teriak-teriak Indonesia.. Indonesia! Sampai saya yang kepanasan pun bergumam, cepat Jho cepat mainnya, kami kepanasan.

Dan, Jho luar biasa! Berhasil memberikan dahaga kepada penonton yang dengan rela menonton panas-panasan. Saat Jho menghabisi lawannya dengan 21-15, keriuhan pun terjadi besar-besaran. Yap! terutama pas Jojo memberikan selebrasi dengan membuka bajunya itu loh, yang bikin nggak tahan kaum hawa.



Pertandingan tunggal pun tuntas. Tinggal pertandingan ganda Indonesia lawan Indonesia. Pada pukul 14.20. Yeaah, patut berbanggalah kita dengan beberapa atlet yang bisa membawa medali emas. Indonesia JUARA! Indonesia BISA!
Setelah nonton, kami shalat di Musala tidak jauh dari tempat kami menonton. Setelah shalat, nyari makan dan foto-foto! Ada beberapa stan makanan yang menggunakan pembayaran mesin. Jadilah kami top-up E-Money dulu sebelum membeli Kebab Wagen yang dijual di zona Bhin-Bhin.

waktu nonton pertandingan final badminton ganda putra 




Setelah makan, kenyang. Kami melanjutkan untuk menonton sebentar pertandingan All final ganda putra. Tak segereget melawan negara lain seperti pada final tunggal putra badminton tadi. Saya dan Ulfa menghabiskan waktu di GBK untuk cekrak-cekrek. Dan, pulang dengan membawa momen keseruan menonton bareng di GBK. Walau panas-panasan, tak menyesal karena membawa kemenangan untuk Indonesia tercinta.


Banyak gerai makanan

Foto di zona Bhin-Bhin (panggung hiburan dan gerai makanan)


Menghabiskan Waktu Seharian di Cirebon







Kota Cirebon, termasuk salah satu list trip saya, qadarullah saya bisa sampai di Kota Cirebon tahun 2018 ini. Kakek saya asli orang Cirebon, tapi saya pun tidak tahu saudara yang ada di Cirebon ini tinggal di mana saja. Kali ini, perjalanan di Cirebon ditemani oleh teman saya, Anggi. Waktu sebelum bertemu di Cirebon, saya bilang ke Anggi bahwa saya ingin sekali ke Cirebon. Dan, tanpa rencana yang matang, one day trip saya ke Cirebon pun terlaksana. Alhamdulillah. Saya pesan kereta untuk PP di Traveloka, jauh-jauh hari. Alasan saya memesan tiket jauh-jauh hari karena, saya takut harga tiket KA murah ke Cirebon habis. Kalian begitu juga nggak sih?

Saya berangkat ke Cirebon menggunakan kereta Api Tegal Bahari,  pada pukul 09.44. Mulai berangkat dari rumah pukul 07.00 teng! Naik Trans, kebetulan moda TransJak hari ini free sampai tanggal 19 Agustus. Dalam perjalanan menuju Stasiun Gambir, mulai dari depan GBK, ramai sekali orang! Hari itu memang akan ada Opening Asian Games pada malam harinya.

Tiba di Stasiun Gambir, waktu menunjukkan pukul 09.00, rupanya saya datang lebih awal. Jadi, tidak perlu terburu-buru mencetak tiket. Ternyata kereta Tegal Bahari sudah standby di peron 4, saya pun langsung masuk dan duduk manis di seat 12 yang ternyata jalannya mundur dan berhadapan dengan dua bangku lainnya. Ok, saya pun gagal memilih kursi yang enak. Kereta Ekonomi Tegal Bahari termasuk lux ya, beda banget sama Matarmaja yang kursinya berjajar 3, dan kurang empuk seperti Tegal Bahari.

3 Jam perjalanan, saya pun sampai di Kota Cirebon! Ternyata, cuaca di Cirebon Hot ya. Saya langsung samperin Anggi yang sudah standby di Stasiun, Anggi pun tak sendiri, ia membawa adiknya yang paling mungil bernama Mon-Mon.
Dari stasiun, kami langsung menuju Keraton Kasepuhan, naik becak. Tak langsung ke Keraton Kasepuhan, saya shalat dulu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Cirebon, nampak mesjid dengan sentuhan interiornya yang mirip dengan Masjid Agung Demak, berbentuk limas.

Saya shalat di teras masjid, jadi saya tidak dapat masuk ke dalam masjid karena ditutup dan belum bisa melihat dengan sempurna duabelas sokoguru ‘pilar utama bangunan’  yang berada di dalam masjid.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa (nampak teras masjidnya)
Susunan batu merah yang khas dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Karena Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan masjid tertua di Tanah Jawa yang dibangun 1480 Masehi, duabelas sokoguru sudah ditopang dengan rangkaian besi agar menjaga sokoguru tetap utuh. Uniknya lagi, masjid ini pun dikenal dengan sebutan Azan Pitu: tujuh muadzin mengumandangkan azan secara bersama-sama. Sampai sekarang, pada saat menjelang Shalat Jum’at, azan pitu bisa kita dengar dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Setelah shalat, kami makan nasi lengko yang cukup enak dan terjangkau ada di Keraton Kasepuhan, harganya cuma 10.000. Setelah perut kenyang dan sanggup berjalan lagi, kami langsung menuju Kerato Kasepuhan.

Di Keraton Kasepuhan, biaya masuknya 15.000 per orang. Baru kali ini saya ke tempat wisata yang tidak ada permainannya dengan biaya yang menurut saya masih terbilang mahal, berbeda ketika saya berliburan ke Wonosobo. 


Menurut wikipedia, Keraton Kasepuhan ini adalah keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Makanya nggak heran biaya masuk dengan harga 15.000 per orang, mungkin harga segitu untuk biaya pemeliharaan keraton.
Nampak halaman depan keraton yang dikelilingi tembok bata merah, uniknya, batu bata disusun dengan perekatan yang dicampur putih telur, getah aren, dan kapur sirih.

Masuk ke Keraton Kasepuhan
Patung 2 ekor macan putih


Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan keraton tertua di Cirebon yang dibangun pada tahun 1430 oleh Pangeran yang bernama Pangeran Walangsungang. Nama keraton kasepuhan awalnya adalah Dalem Agung Pakungwati. Keluarga sultan masih ada yang tinggal di Keraton Kasepuhan ini loh. Waktu saya ke sana, tempat penerima tamu ditutup. Yang saya dengar dari guide, pintu itu akan dibuka pada dua kali dalam setahun, yaitu pada maulid nabi dan Hari Raya Idul Fitri.

Tanpa guide di dalam Keraton Kasepuhan Cirebon, tidak akan membuatmu cengo. di setiap arsiteknya terdapat papan penjelasan yang bisa kamu baca dengan jelas. Kalau kamu suka sejarah kerajaan Islam, kamu perlu catat informasinya!

Ornamen bunga pada pintu melambangkan shalat lima waktu

Saya tidak mampir ke Museum Singa Barong yang berada di komplek keraton, karena harga masuknya yang cukup mahal, 25.000. Padahal seru loh masuk di dalam museumnya, kamu bisa melihat lebih dekat kereta kencana (Kereta Singa Barong) yang menjadi transportasi keluarga sultan.

Perjalanan berlanjut ke Goa Sunyaragi. Dari kejauhan, Goa Sunyaragi sudah terlihat dengan keindahannya. Masuk dengan harga tiket 10.000 per orang. Goa ini adalah goa buatan yang terbuat dari batu karang. Nama Goa Sunyaragi berasal dari bahasa sansekerta, Sunya ‘sepi’ dan Raga ‘badan’.  Sesuai dengan namanya, Goa ini pun dipakai untuk bersemedi para raja Cirebon ratusan tahun lalu.

Di dalam goanya terdapat banyak goa-goa kecil yang bisa kamu masuki, yang saya dengar dari guide tour, tak pernah melihat orang yang badannya besar yang tidak bisa masuk ke dalam Goa-goa Sunyaragi. Katanya lagi, ada patung yang bernama Perawan Sunti ‘perawan seumur hidup’ yang tidak boleh disentuh oleh anak gadis, nanti bisa sukar dapat jodoh. Tapi, patung aslinya tidak berada di tempatnya, patung tersebut sudah dimuseumkan.


Patung perawan sunti yang dipegang guide


Ada banyak spot foto menarik Di Goa Sunyaragi yang bisa kamu cari untuk cekrak-cekreak di sana. Saya pun nggak melewatkan momen tersebut untuk banci foto. Ya, walaupun momen perfotoan pun sedikit yang saya cekrek (ternyata capek juga, keliling Goa Sunyaragi, loh)

Waktu hampir mau Maghrib, saya dan Anggi memutuskan untuk kembali pulang. Tentunya, saya menumpang nginap semalam di tempat Miminya Anggi yang berada di Tukmudal. Saya jatuh cinta dengan Sumber Tukmudal! Wilayahnya cukup adem, dan banyak pohon-pohon rindang di pinggiran jalan. Keesokan harinya saat saya ambil keberangkatan kereta pagi dari Tukmudal, saya sangat menikmati perjalanan dari Tukmudal.

bye-bye Cirebon