Pengalaman Unspiritual Waktu Umrah: Kali Pertama Umrah

Lilis ke Baitullah, aku nitip doa. Alhamdulillah semoga diijabahi oleh-Nya




Untuk umat muslim, siapa sih yang tidak bercita-cita pergi ke Baitullah melakukan ibadah haji maupun umrah. Semua umat muslim pasti ingin ke sana. Begitu pun dengan saya, tapi keinginan tersebut justru menggebu setelah saya menginjakkan kaki di tanah suci saat umrah.

Lah sebelumnya nggak pengin ke sana ta? Jujur, dulu zaman saya masih asyik-asyikkan kenal dunia, saya tidak ada kemauan sama sekali untuk pergi ke sana. Saat adik saya pergi umrah terlebih dulu bersama Ayah, saya tidak sama sekali iri. Pun tidak saya rasakan sama sekali rasa iri, ketika melihat unggahan foto umrah teman-teman berkeliaran dengan giat di Facebook.

Dan sewaktu saya diberitahukan Ibu, bahwa Ayah berniat memberangkatkan saya pergi umrah bersamanya nanti yang entah kapan. Kabar itu saya dengar waktu tahun 2010: waktu saya masih kuliah, waktu saya gemar meracik dosa, waktu saya tidak banyak pengin ini-itunya, waktu saya masih pengin jalan-jalan, asyik-asyikkan sama teman.

Ketika mendengar kabar bahwa saya akan umrah, seharusnya saya bahagia, senang atau terharu. Namun yang saya rasakan saat itu flat dan lebih banyak kecemasannya. Kenapa? Saya berpikir waktu itu: di tahun itu saya terlalu banyak dosa, saya tak pantas ada di rumah Allah, saya tidak pantas beribadah di sana. Dan yang saya takuti adalah pembalasan Allah waktu saya berbuat dosa di Indonesia.

Selama saya dapat kabar akan umrah, saya memang tidak terlalu berharap banyak akan pergi ke sana, yang saya pikirkan adalah dosa yang pernah saya perbuat dan ingin mendapatkan ketenangan. Bahkan saya hampir lupa dengan kabar saya akan umrah. Saya benar-benar fokus ingin mendapatkan ketenangan dan kedamaian batin saya yang terluka (serius nih).

Lalu saya mulai mengambil sikap, lebih baik saya mengoptimalkan ibadah saya dulu sebelum menginjakkan kaki di tanah suci. Yang saya lakukan tidak ada perubahan, hingga tahun 2012 saya baru memulai perbaikan diri. Saya benar-benar mengencangkan ibadah, saya meluruskan niat saya yang salah waktu itu: karena saat itu saya ingin menikah dan ingin cepat-cepat mendapatkan ketenteraman jiwa karena masalah percintaan saya yang terlalu lemah. 
  
Saya sempat merasa minder dengan diri, saya krisis kepercayaan diri dengan jodoh yang tak kunjung saya dapatkan, saya merasa tidak laku, saya merasa laki-laki tidak ada yang suka sama saya sehingga saya sulit dapat jodoh.
Di tahun-tahun perbaikan, saya lebih senang melantunkan bacaan Talbiah:

Labbaikallahumma Labbaik
Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik
Innalhamda Wan Ni’mata
Laka Wal Mulk
Laa Syarikalak
Innalhamda wan-ni'mata
laka wal mulk, laa syariikalak.

Qadarullah, Alhamdulillah selama 4 tahun menunggu dengan abai. Pada tahun 2015, akhirnya saya menginjakkan kaki di tanah suci. Memang benar, Allah yang paling tahu dari pada hamba-Nya. Allah memberikan waktu yang tepat di saat saya lagi butuh banget: yaitu sebuah ketenangan.

Entah kenapa, saat tiba di Bandar Udara King Abdul Aziz, perasaan saya kayak senang gitu, terus pas nyampe Madinah apalagi, udaranya, orang-orangnya: bikin ademm banget. Jadi kayak tenang, nggak kalut gitu. Kalau biasanya saya liburan ke tempat lain, ada saja sedetik kalut. Nah, yang ini nggak sama sekali. Pokoknya tenang luar dan dalam dah. Dan, selama di Madinah pengalaman unik pun terjadi.

Pengalaman yang membuat krisis kepercayaan diri saya soal jodoh, lambat laun mulai stabil. Allah memberikan teguran dan hikmah dengan lembut kepada saya. Dan baru saya tahu setelah umrah beberapa bulan kemudian. Jadi, pengalamannya begini teman-teman.

Waktu di Madinah, setiap kali saya mampir ke toko-toko untuk sekadar melihat barang atau membeli, kerap kali saya ditegur dan diajaki menikah sama si pedagang arab yang hidungnya mancung-mancung. Dari toko ke toko Madinah, tentunya saya mengajak sepupu saya yang cowok untuk menemani saya saat tawaf toko di Madinah. Awalnya mereka lihat saya, lalu bilang: Indonesia?/udah nikah?/udah punya suami? Ya saya jawab jujur lah, belum. Terus langsung diajak nikah (waktu itu si Mas Arabnya bilang pakai bahasa Indo). 

Saya digoda, tapi nggak sampai dicolek-colek ya (seperti ada beberapa cerita jamaah Indonesia pernah mendapat perlakuan tidak menyenangkan saat umrah atau pun haji: dan ini juga salah satu kecemasan saya sebelum umrah).

Jadi, Mas-mas Arab itu mempunyai cara yang santun. Sepupu saya yang didekati (istilahnya mah PDKT sama mahram saya kali ya). Lalu ada drama, si sepupu saya pakai dicium-cium pipinya pulak sama tuh Mas Arab, mungin biar akrab gitu kali ya. Mas Arab ini pun maksa buat tahu jawabannya, saya tak mengiyakan atau pun memberikan penolakan. Ya namanya juga digodain kan ya, masa iya dibaperin say kan nggak mungkin juga. Hahha, padahal saat itu saya memang ngebet banget nikah!  

Kalau saya hitung-hitung, ada sekitar 4 Mas Arab yang suka ke saya, nggak tanggung-tanggung, langsung diajak nikah alias jadi istrinya. Sampai saya membuat skenario ke sepupu saya, menjadikan sepupu sebagai suami saya. Pas mau mampir ke toko lainnya, sepupu dan saya sudah menduga pasti saya digodain lagi. Dan, benar saja, untung saya sudah siapkan scenario sama sepupu yang ngaku jadi suami suami saya kalau ditanya saya sudah nikah atau belum. Tapi, nih orang arab bilang: mana cincinnya? nggak ada cincin kawinnya? Dan, Mas Arab ini mulai PDKT lagi. Seketika itu, saat saya ingin membeli barang harganya dikasih murah, Alhamdulillah.


FYI, saya tiap ke toko itu pakai masker lho. Kok ya, mau ngajakin saya buat jadi istrinya? Yakin wajah saya mulus, atau wajah saya nggak kenapa-kenapa. Kan muka saya tertutup sama masker.  Apa karena emang orang arab doyan sama orang Indonesia ya? Ah sudahlah, nda penting dipikirin. Anehnya, kejadian ini saya alami saat di Madinah saja, sedangkan di Mekah malah nggak ada. 

Di Tanah Suci, mungkin, kamu pun juga bisa saja mengalami kejadian yang unik dan membuatmu terpekur saat itu. Oya, semoga yang belum ke Tanah Suci juga bisa ke sana ya, yang sudah pernah semoga kita ke sana lagi ya. Aaamiinn.  

Review Dilan: AADC rasa ZAMAN now






Akhirnya.. Dilan 1990 tayang juga di bioskop tepatnya mulai tanggal 25 Januari 2018. Dari awal, saya cukup menduga kebanyakan penonton yang datang adalah kalangan millenials, karena emang segmentasinya remaja kan. Terlebih lagi yang menjadi tokoh utamanya Iqbal sebagai Dilan. Tahu sendiri, Iqbal ini semenjak nongol di dunia entertain punya fansnya sendiri yang bocah-bocah alus a.k.a ABG dan itu terbilang banyak. Terlepas dari siapa yang menjadi tokoh utamanya, novel yang ditulis sendiri oleh Pidi Baiq ini juga mendapat tempat di hati para remaja. Namun, novel dan film Dilan ini nggak hanya disukai sama anak remaja. Emak-emak muda pun yang memang mempunyai rasa era tahun 90an juga suka kan? Dan memang benar, beberapa teman saya yang sebaya juga merasakan efek after nonton Film Dilan kemudian baper yang berujung nonton nggak cukup sekali. Wow!

Iqbal yang awalnya ditunjuk langsung oleh Ayah a.k.a Pidi Baiq untuk meranin Dilan, banyak yang skeptis. Hal wajar memang, ketika yang sudah baca novelnya dan kemudian berintrepretasi untuk sok tahu siapa yang akan cocok merealisasikan sosok Dilan yang akan dibuat ke Film. Lalu, kontroversi pun banyak terjadi di kalangan netizen setelah mengumumkan Iqbal yang akan berakting sebagai Dilan. Tapi saya tetap caem-caem aja lah, karena pas saya kepoin, pilihan Iqbal yang diutus untuk meranin Dilan ini, ternyata hasil pilihannya Pidi Baiq sebagai penulis bukunya. Saya yakin, pilihan Pidi Baiq nggak perkara ngasal aja gitu. Terbukti omongan sang manajer Vanesha di IGnya bilang gini:




Setelah nonton tepatnya pada tanggal 1 Februari di CBD yang saat saya temui di Biokop, tumpah ruah anak ABG paket ciledug. Hal yang saya sadari setelah menononton film Dilan adalah jatuh hati sama Iqbal. Haha. Iqbal berhasil membuat diri yang uzur ini punya masa puber untuk kedua kalinya. Buat saya, Iqbal berhasil menjadikan film Dilan ini menjadi legit! Nggak tahu kenapa, kok saat saya memperhatikan Iqbal bermain di Dilan mulai kesemsem nggak keruan. Tatapan matanya ke Milea, berhasil membuat saya jadi deg-degkan sendiri. Syukurlah, nggak hanya saya yang merasa patut jatuh hati pada sosok Iqbal. Beribu-ribu komentar wanita-wanita matang pun hadir memberikan rasa yang podo ae.

Yeaah! Iqbal berhasil…! Good luck ale… Iqbal berhasil mematahkan keraguan pembaca Dilan.



Duhmak, jago banget sih Iqbal natap mesra lawan mainnya. Tapi, soal dia akting lagi ketawa dan marah-marah membuat saya ilfil seketika. Iqbal masih kurang dalam hal ini (kurang greget). Overall, saya suka lah sama Film Dilan ini, setelah saya membaca bukunya Dilan dengan seri lengkapnya yang pernah saya review di sini juga. Soal cerita nggak ada kecewanya acan, persis sama dengan yang ada di buku. Ya walau ada sebagian ceritanya yang detail namun tak begitu penting akhirnya dipangkas demi durasi. Saya nggak ada masalah dengan itu.

Untuk Vanesha, yang kali pertama terjun dalam dunia akting yang langsung ditunjuk sebagai Milea dalam Film Dilan sudah cukup baik. Namun, saya agak kecewa berat dengan peran Ira Wibowo sebagai bunda. Nggak sepadan sama karakter yang saya baca di novelnya. Menurut intrepretasi saya, bunda ini tipe karakter yang ceria. Nah, karena Ira Wibowo sudah biasa berakting dengan karakter yang sedih-sedih nan serius, berasa ada yang janggal saja saat berperan sebagai bunda di Film Dilan. Padahal, si bunda ini juga memiliki porsi yang legit dalam novel.

Lalu yang saya rasakan selama menonton adalah soal pergantian scene demi scene-nya yang terlalu cepat. Film ini sudah terlalu kuat dengan ceritanya, jadi untuk hal-hal sinematografi lainnya yang buruk memudarkan itu semua. Terlepas dari sinematografi, saya memang lebih fokus melihat peran Iqbal dan Vanesha dalam film ini.


AADC rasa zaman now. Bikin yang menonton gemes sama pasangan ini. Akhirnya ya, setelah Cinta dan Rangga.. Ada Dilan dan Milea di tahun 2018..